Sunday, January 3, 2016

Untitled

Dalam malam yang lelap
Dan sunyinya yang riuh,
Harapan menguap ;
Menjadikan dirinya kabut,
Lalu mengudara
Bersama gejolak emosi dalam kalbu.

Paling tidak,
Rembulan pucat gading
Dan bintang terhitung jari
Membuatnya lenyap
Meski hanya sekejap

Bukan masalah
Kalau memunculkan diri (lagi)
Jadi ambisinya.
Adalah sebuah garis;
Awal
Untuk meng-akhir-i mimpi
Yang merindukan realita.

/paham atau berusaha paham/

Sabtu, 2 Januari 2016
23:18

Sunday, November 22, 2015

Tujuan

Menjadikan seseorang sebagi sebuah tujuan adalah masalah sepele. Menyisipkan dirinya pada lamunanmu di siang hari dan membiarkannya menyusup pada mimpi-mimpimu di malam hari bukan jarang terjadi. Yang sulit adalah meminta seseorang untuk menjadikanmu sebagi tujuannya juga. Seringkali kita menepikan nalar. Memaksa logika untuk meyakini bahwa kita adalah tujuannya juga. Dan mengharapkannya untuk terjadi. Sampai kamu memutuskan untuk berganti arah karena kamu menyadari bahwa berjuang sendiri itu melelahkan. Maka, demi bahagiamu, carilah seseorang yang juga menjadikanmu sebagai tujuannya. Entah sahabat, entah kekasih.

Friday, November 6, 2015

S(i)apa Rindu

November menyapa
Senjanya tak lagi jingga
Sapa bayu lirih mendayu
Namun rinai belum juga merayu

Rinduku pada petrikor;
Detik-detik sarat melankoli
Selepas tetes air hujan pertama
Menyentuh pertiwi

Rinduku pada bianglala--
Mengukir senyum pada cakrawala
Rintik hujan dan nyanyiannya
Pada tiap-tiap genting rumah

Dan pada akhirnya, merinduku pada hujan hanya sepersekian persen bila kau bandingkan dengan rinduku untuk:
....

Saturday, August 29, 2015

Jadi, Kamu Itu Siapa?

Matahari terasa menjelma jadi dua. Di bawah langit tak berawan, aku duduk tersimpuh. Sukmaku masuk ke dalam lamunan, sangat dalam, dan biru. Biru, pilu, terpaku. Baru kali ini sengat panas matahari ikut menyengat hati.

Aku ini tidak satu macam dengan mereka-mereka yang mudah gundah. Para manusia yang tergores satu mili saja sudah seperti habis tertimpa mala. Aku layaknya cemara yang kokoh. Biar diterpa hujan badai, berdiriku ini tidak goyah.

Masalahnya, kamu bukan badai. Kamulah Si Manusia; pembawa kapak. Kau pangkas setiap serat kekokohanku.

Sungguh ironi bahwa bersamaan dengan kapak tajammu, kau bawa pula air. Selepas ayunan kapak mengoyak kalbuku, tiap tetes air yang tertuang, olehmu--Si Manusia--, menumbuhkan kembali bilur-bilur kehidupanku yang habis kau rusak.
//
Setelah sadar, aku bertanya-tanya:
Jadi, maumu itu apa?
.
Jadi, kamu itu siapa?

Friday, August 14, 2015

R•U•D•I•T

To rest her half-filled soul
To find the purity amongst the foul(s)

So deep, that she finds such raging sound inside the silence
So deep, she sees colors when there is only darkness around.

Those tempting hours,
In which she resisted to see the light
Peace was finally found.