Aku bersedekap khusyuk, dalam diam mengirimkan eulogi untuk pergimu dari horison yang hanya satu rembulan.
Lalu mengucap terimakasih dan melangkah di bawah langit yang mulai kelabu.
Jumat, 4 Maret 2016
19:09
Rinduku larut bersama dengan pahitnya secangkir kopi pekat di pagi hari
Dilarung deras hujan yang bukan dari langit datangnya
Setiap jengkal tubuhku yang gemetar serta gemeletuk gigi yang memekakkan menghadiri senyapnya pagi ditemani sepotong rekognisi yang silam tentang sekadar eros
Sampai pada saatnya tuan Surya muncul, aku kembali meringkuk, mendekap serpih-serpih memori yang tidak ingin aku lepaskan.
Sabtu, 9 Januari 2016
11:45
Raung mesin dan [basa] - basi manusia
Membenamkan suaramu yang tergugu
Buhul-buhul sipu sebagai pemeran utama,
Sungguh piawai mereka kuasai panggung :
Raut wajahmu.
Lalu,
Kedua ujung bibirku menarik dirinya ke atas
Hingga sebuah senyum tersimpul.
Rapih dan perlahan menyatu dengan sorot mata[ku].
Lampu jalan adalah kawan
Jalan beraspal menjadi kerabat dekat.
Di antara mereka, kita menebar tawa
Yang bahkan menggantung pada ujung-ujung ranting pohon tak berdaun.
Malam menjadi saksi, ia titipkan euforianya pada angin.
Di antara bahagia,
Anganku penuh tepekur,
Membawanya pada sebuah tanya,
Samakah sebab tawa-senyumku denganmu?
Minggu, 3 Januari 2016.
23:33
Dalam malam yang lelap
Dan sunyinya yang riuh,
Harapan menguap ;
Menjadikan dirinya kabut,
Lalu mengudara
Bersama gejolak emosi dalam kalbu.
Paling tidak,
Rembulan pucat gading
Dan bintang terhitung jari
Membuatnya lenyap
Meski hanya sekejap
Bukan masalah
Kalau memunculkan diri (lagi)
Jadi ambisinya.
Adalah sebuah garis;
Awal
Untuk meng-akhir-i mimpi
Yang merindukan realita.
/paham atau berusaha paham/
Sabtu, 2 Januari 2016
23:18